
Ripal Aktoba
Senin, 30 Agustus 2010
Taufik Juara
HYDERABAD-Taufik Hidayat berhasil menambah satu lagi titel juaranya setelah memenangi India Open dalam laga yang berlangsung beberapa saat lalu. Sayangnya hasil serupa tak mampu didapat ganda putri, Vita Marissa/Nadya Melati. Menghadapi pebulutangkis Malaysia, Muhammad Hafiz Hashim, Taufik menang dengan straigt set. Setelah bertarung dalam waktu 30 menit, peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 itu mengungguli lawannya dengan 21-18 dan 21-19.
Taufik menang cukup mudah di set awal. Meski lebih dulu tertinggal dalam pengumpulan poin, namun pebulutangkis 27 tahun itu selalu unggul dalam pengumpulan poin setelah sempat menyamakan kedudukan di angka 5-5.
Di set kedua perjuangan lebih berat harus dilalui Taufik, kedua pebulutangkis sempat delapan kali saling susul-menyusul angka. Taufik sempat berada dalam kondisi kritis saat tertinggal 19-17, namun juara dunia tahun 2005 itu kemudian mengunci perolehan poin Hashim dan menyudahi laga dengan 21-19.
Sayangnya kisah sukses Taufik tak mampu diikuti oleh ganda putri Vita Marissa/Nadya Melati. Ditantang pasangan Cina, Jin Ma/Xiaoli Wang, Vita/Nadya menyerah dua set langsung 14-21 dan 13-21 dalam waktu 27 menit.
Masa Kecil Taufik Hidayat
July 1st, 2010

SELAMA ini Taufik Hidayat, dikenal sebagai sosok yang mudah terpancing emosinya. Tak saja di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Sebagian publik sudah melihat bagaimana ketika Taufik secara emosional tak mau melanjutkan pertandingan final nomor beregu putra di Asian Games 2002. Atau bagaimana seorang Taufik, dengan ”gampang” memukul sopirnya Ahmad Kalla, ketika mobilnya bersinggungan.
Namun siapa sangka, masa kecil Taufik berbeda seratus delapan puluh derajat. Menurut guru-guru, para tetangga dan orang-orang dekatnya, Taufik kecil justru dikenal sebagai anak yang lugu, pendiam, dan pemalu.
***
MATANYA berkaca-kaca, ketika sang guru menegurnya karena ia tidak mengerjakan ”PR” (pekerjaan rumah). Melihat itu, sang guru pun merasa kasihan dan tak tega memberinya hukuman. Wajah anak itu begitu lugu dan menggemaskan, terlebih dalam kesehariannya anak itu tidak pernah neko-neko. Akhirnya si murid hanya disuruh mengerjakan ”PR”-nya di dalam kelas.
Itulah momen yang selalu diingat tiga guru Sekolah Dasar Negeri Pangalengan I tentang Taufik Hidayat. Pebulu tangkis yang meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004 ini memang tercatat sebagai murid SDN Pangalengan I dengan nomor induk 5563 yang lulus tahun 1986.
Di sekolah yang terletak di pinggir Jln. Raya Bandung-Pangalengan inilah Taufik menghabiskan masa kecilnya. Dilihat dari fisik bangunannya, sekolah dasar yang terdiri dari tiga sekolah itu (SDN Pangalengan I, II dan III) tidaklah istimewa. Bangunannya sederhana seperti umumnya sekolah-sekolah dasar yang ada di daerah. Bahkan di beberapa bagian sudah memerlukan sentuhan perbaikan, minimal pengecatan. Tetapi dari sekolah yang tak memiliki lapang bulu tangkis itulah ”lahir” juara dunia bulu tangkis, Taufik Hidayat.
Teni Riani (guru kelas I), Ranny Nuraeni, S.Pd. (guru kelas III), dan Dra. Dewi Herliani (guru kelas IV) mengisahkan ketika berada di bawah bimbingan mereka, Opik,–panggilan akrab Taufik Hidayat,–memang termasuk anak pendiam dan pemalu, jauh dari kesan menonjol. Pergaulannya terbatas hanya dengan teman-teman tertentu. Bukan karena sombong, melainkan karena pemalu. Satu-satunya sahabat kentalnya di SD adalah Anton yang kini menjadi polisi.
Kulit putih, dengan wajah yang imut-imut membuat banyak orang menyukai Opik, temasuk para guru dan teman-temannya. Kerapihannya dalam berpakaian seragam sering dijadikan contoh. Tetapi namanya juga anak-anak, pertengkaran selalu terjadi karena berbagai sebab. Namun Opik cenderung mengalah jika harus bentrok dengan rekannya. Air matanyalah yang kemudian mengakhiri pertikaian.
”Opik memang bisa dikatakan cengeng, karena tak melawan jika ada teman yang mengganggunya. Makanya saya terkadang heran jika membaca kasus-kasus yang dialami Opik akhir-akhir ini. Kok sifat-sifat Opik sekarang berbeda dengan dulu?” ujar Ranny.
Dalam mata pelajaran pun Opik terbilang biasa-biasa saja, bahkan ketika duduk di kelas empat, rapor cawu I-nya sempat dihiasi tinta merah untuk mata pelajaran IPS, matematika, dan IPA. ”Sebenarnya kecerdasan Opik terbilang lumayan, artinya tidak kurang, hanya saja mungkin karena kecapekan, pelajaran Opik di cawu I kelas empat menurun drastis,” jelas Dewi.
Sejak kelas III SD, lanjutnya, Opik memang masuk klub Sangkuriang Graha Sarana (SGS) di Jln. Soekarno Hatta Bandung. Untuk itu setidaknya seminggu dua kali Opik harus bolak-balik Bandung-Pangalengan yang berjarak sekira 40 km dengan menumpang kendaraan umum. Bahkan latihan berlangsung sampai malam hari sekira pukul 20.00 WIB.
Tak heran, jika di awal-awal masuk klub SGS Opik acap kedapatan mengantuk di dalam kelas. ”Kunaon Pik nundutan wae (Kenapa, Pik mengantuk saja)?” Teguran itu kerap dilontarkan Ibu Ranny manakala melihat Opik mengantuk di dalam kelas. Untunglah hal itu tidak berlangsung lama, Opik segera dapat menyesuaikan diri dengan kegiatannya dan bisa mengejar ketinggalannya.
Sejak sering mengikuti berbagai turnamen, nama Opik semakin dikenal di lingkungan teman-teman sekolahnya maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Kendati demikian, tidak ada perlakuan istimewa untuknya. Kelebihannya, mungkin hanya dalam kemudahan mendapatkan izin jika ada pertandingan di luar sekolah. Tetapi, itu tidak seberapa dibandingkan dengan prestasi yang diraih Opik.
”Sebagai gurunya, kami semua tentu merasa bangga, apalagi dengan prestasi Opik di Olimpiade Athena 2004. Kami hanya bisa mendoakan mudah-mudahan dia bisa terus menjaga prestasinya. Kendati demikian, kami berharap sesekali Opik mau mampir ke SDN Pangalengan I untuk memberi dorongan kepada adik-adik kelasnya agar bisa berpresatsi seperti dirinya,” ujar ketiga guru wanita yang ketika diwawancara didampingi kepala sekolah, Elan.
***
KESEJUKAN alam pegunungan Pangalengan yang terkadang dihiasi embun di pagi hari, telah membawa keteduhan bagi sebagian penduduknya. Suasana inilah yang menghantarkan pribadi seorang anak manusia yang di kemudian hari mampu membahanakan nama Indonesia di mata dunia melalui prestasinya. Suasana teduh Kecamatan Pangalengan yang jauh dari hiruk pikuk kota, menjadikan Opik kecil tumbuh dengan pribadi tenang, tidak meledak-ledak, bahkan nyaris tertutup.
Taufik Hidayat, dilahirkan pada 10 Agustus 1981 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya menekuni bisnis sayuran yang cukup dikenal di Pangalengan. Dari usahanya, ia mampu menghidupi Taufik untuk mengikuti berbagai aktivitas di luar sekolah.
Lingkungan rumah yang hangat, membuat Opik kecil cenderung malas melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar. Terlebih ayahnya mendidik Opik kecil sangat disiplin. Terkadang saat Opik meminta uang jajan, terlebih dahulu harus bermain tali (skipping) atau memainkan dumbbell. Rupanya di balik ketatnya disiplin ini, sang ayah secara diam-diam ingin membentuk fisik Opik menjadi kuat. Opik pun memenuhi ”permintaan” ayahnya tanpa beban.
Opik memang penurut dan termasuk anak rumahan yang manis. ”Jika tidak terlalu penting, kelihatannya ia malas keluar rumah. Mungkin karena kecapekan latihan bulu tangkis,” ujar Nung, pembantu yang sudah lama ikut dengan keluarga H. Aries Haris dan Hj. Enok Dartilah, orang tua Taufik.
Seperti kebanyakan anak lainnya, Opik sesungguhnya lebih menyukai sepak bola. Namun ayahnya, menyarankan untuk meraih prestasi sebaiknya menekuni bulu tangkis. Kebetulan ayah dan ibunya menggemari olah raga ini. Maka, di usia tujuh tahun, Opik sering kali diajak orang tuanya bermain bulu tangkis di lingkungan rumahnya. Antara lain di GOR Pamor, Pangalengan. Sejak itulah Opik lambat tetapi pasti mulai menyukai bulu tangkis.
Setelah agak mampu mengayunkan raket, tidak jarang ia menggoda kakak dan adiknya bahkan pembantunya saat mereka menjadi lawan tandingnya. Ketiga orang itu terkadang dijadikan sasaran untuk di-smash, hingga acap Nung dibuat menangis.
Opik mulai dibina secara fisik oleh Ence Surahmat dan Ade di GOR Pamor yang belakangan ini berubah fungsi menjadi kandang ayam, karena pengurusnya bubar. Sejak itulah ia memberanikan diri mengikuti pertandingan di lingkungan setempat, bahkan ia mampu mengalahkan lawan yang sudah dewasa sekali pun.
Melihat kelebihan anaknya, Aries memasukan Opik ke SGS pimpinan Lutfi Hamid. Opik ditangani pemain eksentrik Iie Sumirat. Konsekuensinya, Opik terpaksa bolak balik Pangalengan-Bandung.
”Jika pulang sekolah, Opik hanya sebentar berisitirahat, karena harus siap-siap ke Bandung, terkadang Opik hanya sempat makan dengan telur goreng kering kesukaannya, kali lain ia cukup menyantap mi instan kegemarannya,” cerita Nung.
Masa-masa ini tentu tinggal cerita manis bagi Nung. Karena sejak masuk SMP Taufik kemudian hijrah ke Bandung. Awalnya ia tercatat sebagai murid di SMP Pasundan I Jln. Balong Gede Bandung. Karena tuntutan latihan yang padat, sering kali Taufik harus bolos dari sekolah. Melihat kondisi ketatnya peraturan sekolah, akhirnya Taufik pindah ke SMP Taman Siswa hingga ia menamatkan pendidikan SMA.
Di sekolah ini Taufik mendapat kelonggaran untuk meraih prestasi bulu tangkisnya. Bahkan ketika ujian akhir SMA pun Taufik diperbolehkan mengikuti ujian susulan di ruang perpustakaan sendirian. Setelah lulus SMA, Taufik kian berkembang. Dan akhirnya ia hinggap di Pelatnas Cipayung.
Dengan keberhasilan Taufik saat ini, selain merasa bangga, warga Pangalengan mengharapkan Taufik bisa berbuat sama seperti yang dilakukan pendahulunya, Susi Susanti di Tasikmalaya. ”Kami berharap ada GOR Taufik Hidayat di Pangalengan ini,” ujar Mantri Polisi Kecamatan Pangalengan, Rukman, mewakili warganya. (pikiran-rakyat.com)
Asian Games: Taufik Hidayat Menang dan Senyum
cri

Dalam pertandingan tunggal putra di Gedung Bulutangkis Aspire Doha kemarin malam pukul 10 waktu setempat, Taufik Hidayat menambah sebuah medali emas bagi Kontingen Indonesia setelah menundukkan Lin Dan dari Tiongkok dengan dua set langsung.

Di Asian Games Doha Taufik Hidayat hanya dikalahkan dua kali dari satu lawan, yakni Lin Dan dari Tiongkok. Sebelum pertandingan final kemarin malam, Lin Dan mengatakan: "Saya percaya Taufik sudah menerima latihan yang lumayan dalam satu waktu setelah Piala Dunia, ternyata dia sedang dalam kondisi prima, rasanya sangat berbeda dengan kondisinya pada pertandingan pertama. Ia terus bertahan dalam pertandingan, daya tahannya lebih kuat daripada dulu." Memang benar apa yang dikatakan Lin Dan. Selama satu tahun yang lalu, Taufik selalu berada dalam kondisi yang jelek karena gangguan luka pinggangm, dan selalu dikalahkan jika bertanding melawan Lin Dan. Akan tetapi, dalam pertandingan final kemarin, Taufik yang bersemangat tinggi akhirnya membalas dendam kepada Lin Dan.


"Dalam pertandingan saya selalu terburu-buru sehingga melakukan banyak kesalahan. Setelah Taufik menang di set pertama, dia lebih unggul secara psikologis, dan pada saat kunci saya gagal memegang peluang. Asian Games kali ini memang penting juga, akan tetapi juga adalah peluang untuk memanas bagi Olimpiade tahun 2008. Tentu saja Olimpiade lebih penting. Setelah kembali ke Tiongkok, saya akan menyimpulkan kekurangan saya dan mengatasinya dalam pertandingan lainnya."
Dalam pertandingan ganda putra kemarin, pasangan Indonesia Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto dikalahkan pasangan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dari Malaysia dengan angka dua kosong.
Dalam pertandingan semifinal beregu putra tanggal 4, tim Indonesia berhadapan dengan tim tangguh Tiongkok. Dalam pertandinganitu, Indonesia hanya memetik satu angka melalui pasangan putra Markis Kido/Hendra Setiawan, yang mengalahkan Cai Yun/Fu Haifeng dari Tiongkok. Sedang pemain-pemain lainnya termasuk Taufik Hidayat dan pasangan Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto semuanya dikalahkan pemain Tiongkok dengan angka 1:2. Seusai pertandingan semifinal beregu putra, Ketua Umum PBSI Sutiyoso mengatakan:
"Tahun depan akan dipertandingkan Piala Sudirman. Tahun 2008 ada pula Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Tim Indonesia dan Tiongkok, termasuk Lin Dan dan Taufik kemungkinan saling berhadapan. Di Olimpiade tahun 2008, Taufik yang berusia 27 tahun akan tampil terakhir di arena bulutangkis, dan ia pasti akan berjuang sedapat mungkin. Kami menantikan pertandingan final antara Lin Dan Taufik Hidayat di Olimpiade tahun 2008."
PRESTASI INDONESIA DARI OLIMPIADE KE OLIMPIADE

-

-
Indonesia pertamakali ikut Olimpiade pada Olimpiade ke 15 di Helsinki, Finlandia tahun1952. Dan selanjutnya Indonesia tak pernah absen ikut Olimpiade hingga Olimpiade ke 34 di Beijing tahun 2008 (kecuali waktu memboikot Olimpiade ke 22 di Moskwa tahun 1980, sebagai protes terhadap perang “Soviet–Afganistan”).Prestasi dan perolehan medali :
1. Olimpiade ke 24, Seoul, Korea Selatan, 1988
(Indonesia meraih medali: 1 perak)
Indonesia meraih medali untuk pertama kalinya sejak ikut Olimpiade pertama kali (Olimpiade ke 15, 1952, Helsinki, Finlandia) melalui trio Lilies Handayani, Nurfitrie Saiman dan Kusuma Wardhani yang merebut medali perak di dalam cabang olah raga memanah.
Lilies Handayani

Nurfitrie Saiman

Kusuma Wardhani

2. Olimpiade ke 25, Barcelona, Spanyol, 1992
(Indonesia meraih medali: 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu)
Indonesia meraih medali emas (total 2 emas) untuk pertama kalinya sejak ikut Olimpiade melalui cabang bulutangkis yang dipersembahkan oleh Susi Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra).
Disusul perolehan 2 medali perak (bulutangkis) yang masing-masing dipersembahan oleh Ardi B. Wiranata (tunggal putra) dan Eddy Hartono / Rudy Gunawan (ganda putra), dan perolehan 1 perunggu (bulutangkis) yang direbut oleh Hermawan Susanto (tunggal putra).
Susi Susanti

Alan Budikusuma

3. Olimpiade ke 26, Atlanta, Georgia, AS, 1996
(Indonesia meraih medali: 1 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Urutan ke 41 dari 197 negara peserta)
Semua medali ini direbut dari cabang olah raga bulutangkis. 1 emas dipersembahkan oleh Rexi Mainaky / Ricky Subagja (ganda putra), 1 perak dipersembahkan oleh Mia Audina dan 2 perunggu masing-masing dipersembahkan oleh Susi Susanti (tunggal putri) serta Denny Kantono / Antonius Iriantho (ganda putra).
Rexi Mainaky / Ricky Subagja

4. Olimpiade ke 27, Sydney, Australia, 2000
(Indonesia meraih medali: 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu)
1 emas dipersembahkan oleh Tony Gunawan / Chandra Wijaya (bulutangkis, ganda putra). 3 perak masing-masing dipersembahkan oleh Hendrawan (bulutangkis, tunggal putra), Tri Kusharyanto / Minarti Timur (bulutangkis, ganga campuran), dan Raema Lisa Rumbewas (angkat berat, putri 48 kg). 2 perunggu masing-masing dipersembahkan oleh Sri Indriyani (angkat berat / weightlifting, putri 48 kg) dan Winarni (angkat berat / weightlifting, putri 53 kg).
Tony Gunawan / Chandra Wijaya

5. Olimpiade ke 28, Athena, Yunani, 2004
(Indonesia meraih medali: 1 emas dan 2 perunggu)
1 emas dipersembahkan oleh Taufik Hidayat (bulutangkis, tunggal putra). 2 perunggu masing-masing dipersembahkan oleh Soni Dwi Kuncoro (bulutangkis, tunggal putra) dan Flandy Limpele / Eng Hian (bulutangkis, ganda putra).
Taufik Hidayat

6. Olimpiade ke 29, Beijing, China, 2008
(Indonesia meraih medali: 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu. Urutan ke 42 dari 202 negara peserta)
1 emas dipersembahkan oleh Markis Kido / Hendra Setiawan (bulutangkis, ganda putra). 1 perak dipersembahkan oleh Nova Widianto / Liliyana Natsir (bulutangkis, ganda campuran). 3 perunggu masing-masing dipersembahkan oleh Eko Yuli Irawan (angkat besi putra), Triyatno (angkat besi putra), dan Maria Kristin Yulianti (bulutangkis, tunggal putri).
Perolehan medali angkat besi putra, adalah perolehan medali pertama kali di cabang olah raga angkat besi putra pada Olimpiade.
Markis Kido / Hendra Setiawan

Liverpool Minta Spanyol Tak Panggil Torres
Arya Perdhana - detiksport

AFP/Ian Kington Liverpool - Meski sudah mencetak gol, Fernando Torres belum kembali ke kondisi terbaiknya. Karena itu, Liverpool pun meminta Spanyol untuk tidak memanggil penyerang andalannya itu.
Torres mencetak satu gol indah lewat tendangan akurat dari luar kotak penalti untuk membawa Liverpool mengalahkan West Bromwich Albion 1-0 di Anfield, Minggu (29/8/2010).
Inilah kali kedua Torres menjadi starter buat Liverpool setelah di partai kontra Manchester City. Belum fitnya kondisi striker 26 tahun itu menjadi alasan mengapa ia beberapa kali mengawali laga dari bangku cadangan.
"Saya pikir Anda bisa lihat dari babak pertama, dia berusaha sangat keras saat ini. Dia berusaha untuk mengejar (kondisi) rekan-rekannya," komentar manajer Liverpool Roy Hodgson di situs klub.
Torres didera cedera lutut sebelum Piala Dunia 2010, tapi tetap masuk skuad Spanyol. Menanggung rasa sakit di kakinya, eks bomber Atletico Madrid gagal mencetak satu pun gol buat El Matador.
Cedera tersebut terbawa sampai ke masa persiapan Liverpool dan akibatnya Torres terlihat masih kurang jam terbang. Tapi gol ke gawang WBA bisa menaikkan kepercayaan dirinya.
"Dia terlambat memulai masa pra-musimnya dan harus menyembuhkan lututnya sepanjang Piala Dunia. Tapi gol itu berarti bagus buat kepercayaan dirinya," tukas Hodgson.
Pada 3 September nanti, Spanyol akan mengawali langkahnya mempertahankan gelar Piala Eropa dengan menghadapi Leichtenstein di kualifikasi Euro 2012. Hodgson berharap agar Torres tidak dipanggil dulu.
"Kami berharap Spanyol tidak membutuhkan jasanya dan memberi dia kesempatan untuk memulihkan diri dan menjalani 'pra-musimnya'," tandas Hodgson berharap.
Arya Perdhana - detiksport

AFP/Ian Kington
Foto Terkait
Torres mencetak satu gol indah lewat tendangan akurat dari luar kotak penalti untuk membawa Liverpool mengalahkan West Bromwich Albion 1-0 di Anfield, Minggu (29/8/2010).
Inilah kali kedua Torres menjadi starter buat Liverpool setelah di partai kontra Manchester City. Belum fitnya kondisi striker 26 tahun itu menjadi alasan mengapa ia beberapa kali mengawali laga dari bangku cadangan.
"Saya pikir Anda bisa lihat dari babak pertama, dia berusaha sangat keras saat ini. Dia berusaha untuk mengejar (kondisi) rekan-rekannya," komentar manajer Liverpool Roy Hodgson di situs klub.
Torres didera cedera lutut sebelum Piala Dunia 2010, tapi tetap masuk skuad Spanyol. Menanggung rasa sakit di kakinya, eks bomber Atletico Madrid gagal mencetak satu pun gol buat El Matador.
Cedera tersebut terbawa sampai ke masa persiapan Liverpool dan akibatnya Torres terlihat masih kurang jam terbang. Tapi gol ke gawang WBA bisa menaikkan kepercayaan dirinya.
"Dia terlambat memulai masa pra-musimnya dan harus menyembuhkan lututnya sepanjang Piala Dunia. Tapi gol itu berarti bagus buat kepercayaan dirinya," tukas Hodgson.
Pada 3 September nanti, Spanyol akan mengawali langkahnya mempertahankan gelar Piala Eropa dengan menghadapi Leichtenstein di kualifikasi Euro 2012. Hodgson berharap agar Torres tidak dipanggil dulu.
"Kami berharap Spanyol tidak membutuhkan jasanya dan memberi dia kesempatan untuk memulihkan diri dan menjalani 'pra-musimnya'," tandas Hodgson berharap.
Gomez menuju Liverpool?


Mario Gomez bakal tampil di Anfield? (Getty Images)
“Jika kami bisa mendapat striker yang bisa melepaskan pressure pada Fernando Torres selamanya, maka itu akan sangat berguna,” tutur Hodgson di ESPN Star.
“Saya pikir itu akan jadi klimaksnya namun saya sangat hati-hati untuk tak membawa pemain yang saya pikir tidak cukup bagus. Membuang-buang uang untuk membeli pemain di mana kami memilikinya bisa jadi kesalahan,” lanjutnya.
Maka nama-nama seperti Carlton Cole, Ola Toivonen, David Trezeguet dan Lloric Remy bermunculan ke permukaan. Namun tak satupun yang berhasil didapatkan dan malah Cole yang diisyaratkan kuat akan merapat ke Anfield kini malah menjauh.
Dengan semakin dekatnya deadline bursa transfer maka muncullah nama Gomez, penyerang internasional Jerman yang kini masa depannya di Bayern Munich tengah tak pasti. Gomez gagal memenuhi ekspetasi Bayern saat didatangkan dengan harga mahal 32 juta euro dari VFB Stuttgart tahun lalu.
Demi mencari kesempatan main lebih banyak dan juga menjaga tempat di timnas Jerman, Gomez pun dikabarkan tengah mencari klub baru meski awalnya ia sempat menyatakan ingin memperjuangkan karirnya di skuad Louis van Gaal.
Adalah penasihat pemain usia 25 tahun itu Uli Ferber yang mengaku bahwa pihaknya tengah menimbang-nimbang tawaran yang diajukan Liverpool pada kliennya itu. “Ketika ada klub seperti Liverpool tertarik, maka tawaran mereka tidak mungkin ditolak,” ujar Ferber kepada Kicker.
Jadi bagaimana, Gomez?
Langganan:
Postingan (Atom)